Pages

Senin, 31 Desember 2007

Kit, Detil Pegang Peranan


Bayangkan saja sebuah miniatur F-16A Fighting Falcon berskala besar milik Skadron 3 Lanud Iswahyudi terpajang di ruang tamu. Masih kurang? Bisa saja di sebelahnya ditambahi sebuah F-14A Tomcat asal Skadron VF-41 Black Aces yang diawaki Komodor "Hank" Kleeman dan Letnan David Venlet yang berhasil merontokkan Sukhoi Su-22 Fitter AU Libya. Angan-angan tadi bukanlah suatu hal yang tak mungkin diwujudkan, terutama bagi orang yang punya hobi merakit pesawat model.

Tak jelas benar kapan model kit mulai masuk Indonesia. Sedangkan di dunia, hobi ini mulai banyak ditekuni orang sejak tahun 1937. Tapi usut punya usut, hobi merakit model yang terbuat dari plastik sudah ada di Bumi Pertiwi ini sejak awal era 70-an. Untuk mendapatkannya kala itu juga terhitung tak mudah. Pasalnya hanya di pusat kota macam sekitar Pasar Baru produk hobi ini bisa ditemui. Pilihan produk yang ada juga tak banyak, Monogram dan Tamiya tercatat jadi primadona.

Itu baru masalah mencari model yang akan dibuat. Soal urusan cat yang sesuai, jangan tanya dulu, lantaran hampir dibilang kala itu tak ada di pasaran. Akibatnya untuk mewujudkan model agar sesuai aslinya terpaksa cat minyak macam kuda terbang yang jadi andalan. Hasilnya tentu saja bisa ditebak, semua garis-garis panel yang menyelimuti badan pesawat jadi kurang terlihat. Bahkan kalau kelewat nafsu saat melabur cat, bisa-bisa garis-garis tadi bakalan hilang.

Angin agak segar mulai berhembus bagi dunia model kit di era 80-an bersamaan dengan munculnya trend bisnis retail. Tak harus di toko hobi, model kit juga mulai ditemui di toko retail. Produknya juga agak beragam mulai dari Hasegawa, Tamiya, Matchbox, Fujimi hingga Italeri. Sampai era 90-an produk asal Korea, Academy, juga mulai merambah ke Indonesia.

Menurut ukuran (skala), model kit pesawat terbang terbagi menjadi enam kategori, yaitu skala 1:200, 1:144, 1:72, 1:48, 1:35 dan 1:32. Umumnya yang sekarang beredar skala 1:144, 1:72, dan 1:48. Untuk model berskala 1:144 merupakan seri dasar (basic) yang bisa dibilang cocok untuk para hobies yang mulai merambah dunia model kit. Alasannya selain harganya murah, cara pemasangannya terhitung mudah. Sedangkan bila skala yang dianut masuk dalam kategori besar (1:32) bisa dipastikan detil yang ada juga termasuk jempolan.

Mewujudkan pesawat impian bukanlah suatu hal yang tak mungkin. Pasalnya saat ini di pasaran beredar pesawat mulai dari yang modern F-14 Tomcat, F-15 Eagle, atau F-16 Fighting Falcon, sampai pesawat kuno (vintage) pembom Lancaster, B-17 Flying Fortress atau sang lagendaris P-51 Mustang. Bahkan pesawat yang masih dalam taraf eksperimental X-32, X-35 (JSF) hingga Sukhoi Su-37 Berkut juga ada. Tak ketinggalan bagi yang gemar urusan luar angkasa, model-model roket macam Apollo, Saturn, space-shuttle lengkap dengan sistem peluncurnya sampai kapal USS Enterprise yang ada dalam film Startrek pun bisa dimiliki.

Dari urusan merk, model kit juga memiliki kelas yang dibagi berdasarkan mutu dan harga. Kalau dilihat, nama Hasegawa tetap menempati urutan pertama soal detil dan ketepatan fiting, namun dengan harga selangit. Tempat kedua diraih oleh Tamiya, walau untuk kategori pesawat, produk ini bisa dibilang terbatas. Kemudian ada juga Dragon, yang punya detil lumayan baik dengan harga terjangkau namun acapkali beberapa parts-nya sering tak lengkap. Ada lagi produk unggulan keluaran AS yaitu Testor dan asal Eropa, Revell atau Monogram.

Bagi yang kantongnya pas-pasan, ada dua pabrikan yang mengeluarkannya, yaitu Italeri dan Academy. Italeri, yang di Indonesia punya harga lebih murah ketimbang di negara-negara lain, punya kelemahan sambungan yang kurang pas. Sedang Academy setelah dianggap kurang bagus detil dan decal-nya, pada produk terakhirnya mulai berbenah. "Untuk keluaran terakhirnya tak kalah dengan Tamiya," ujar Peter Nurasan salah seorang modeller sekaligus pemilik toko model kit di Mall Taman Anggrek.

Beberapa model kit juga punya senjata unggulan untuk merebut hati kalangan modeler. Dengan embel-embel "Limited Edition" pada kemasannya, produk ini menawarkan sesuatu yang beda. Decal khusus macam Tiger Meet, aksesori tambahan semisal panel kokpit full detail, merupakan bonusnya. Tapi jangan salah sangka, isinya (parts-nya) sebenarnya sama dengan produk reguler. Para modeler umumnya setuju, Hasegawa biasanya yang suka menerapkan akal-akalan macam ini. Kesimpulannya, detil merupakan unsur vital pada hobi kedirgantaraan yang satu ini.

Kiat merakit

Begitu kemasan dibuka, terutama bagi pemula, ada baiknya memperhatikan urutan pekerjaan yang telah diberikan pada lembar petunjuk. Perhatikan juga apakah ada bagian yang kurang atau cacat. Kalau terjadi, ya tukarkan saja dengan barang sejenis.

Peralatan pendukung macam tang penggunting, cutter, pinset, bor kecil, kuas isolasi masking, dempul, compound, sampai amplas paling halus juga mesti disiapkan. Urusan lem model kit juga mesti diperhatikan lantaran ada dua jenis di pasaran, yaitu yang berujung tipis dan lebar. Ujung tipis umumnya dipakai untuk menempel kaca (clear parts) maupun sambungan badan agar hasilnya rapi. Sedangkan ujung lebar biasanya dipakai untuk menyambung bagian sayap.

Biasanya pada tahap awal perakitan, bagian kokpit yang lebih dulu digarap. Agar tampak seperti aslinya, ada baiknya bagian ini dicat sesuai dengan literatur yang ada. Sebagai contoh untuk layar radar bisa saja dipakai warna clear hijau. Bila telah rampung maka pekerjaan dilanjutkan ke badan pesawat. Untuk itu perlu diperhatikan apakah sambungan bagian ini pas atau tidak sebelum dilem. Jika tidak, maka dempul yang pegang peranan untuk mengatasi masalah ini. Kadang kala jika bagian ini diamplas terlalu keras, maka garis detil yang ada ikutan terhapus. Dengan memakai cutter maka garis tadi bisa dimunculkan kembali.

Sekarang giliran pengecatan. Ada dua jenis cat yang biasa digunakan untuk model kit yaitu 'enamel' dan 'acrylic'. Perbedaannya dari kedua jenis tadi adalah untuk enamel memakai cairan pengencer thiner sedangkan acrylic memakai air. Bila menerapkan teknik pengecatan dengan kuas, maka cat dari jenis enamel dianggap lebih cocok, lantaran hasil pengecatan dijamin bisa rata. Sedang bila memakai teknik airbrush, maka kedua jenis cat tadi bisa saja dipakai. Selain itu ada pula cat enamel dari jenis semprot (spray). Jika kepepet maka pemakaian cat sejenis 'pylox' juga tak diharamkan. Cuma saja syaratnya, cat macam ini dipakai pada pesawat yang menyandang warna putih atau hitam (macam F-117). Dan jangan lupa, setelah itu badan pesawat mesti diguyur lagi dengan warna kusam (clear dolf).

Rombak habis

Ada kalanya modeler tak cukup puas dengan tampilan pesawat model hasil ramuan pabrikan. Apalagi kalau melihat literatur-literatur yang ada. Agar tampak seperti aslinya (bisa digerak-gerakkan), bagian flaps pesawat disayat dari dudukannya dan dipasang kembali dengan posisi berbeda. Bagian lain yang biasanya juga kena rombak adalah kaca kokpit, rudder, dan aileron. Mau lebih berat, maka bagian badan pesawat yang bisa memperlihatkan sistem kanon, radar, dan bahkan mesin juga ikutan dirombak. Selain itu bisa juga sekadar memperlihatkan kerangka badan maupun sayap. Terus terang kalau sudah tingkatan ini, selain kreativitas penggunaan bahan (bisa pakai bahan bekas) juga dibutuhkan ketelitian dan kesabaran.

Walau masih terbilang jarang ditemui di dalam negeri, namun adanya aksesori yang memang sengaja dijual terpisah juga membuat acara rombak habis model kit kian menjadi-jadi. Sebut saja dari aksesori yang terbilang lumrah macam berbagai jenis rudal, perangkat pendukung di darat (ground equipment) sampai ke detil kokpit. Biasanya kalau sudah berhubungan dengan interior kokpit (kursi lontar atau panel) dan mesin, maka bahan resin-lah jagonya. Sedangkan bila sebuah detil dianggap tak bakal bisa dibuat dari plastik maupun resin, maka bagian ini dibuat dari lempengan metal tipis atau lazim disebut photo-etched. Soal harga aksesori jangan tanya. Sebagai contoh harga sebuah aksesori kursi lontar mungil saja bisa-bisa mencapai lima dollar AS.

Pernik lain yang masuk kategori ini adalah decal. Maklum, banyak modeler yang kurang puas dengan decal asli bawaan pabrikan. Alhasil maka ada juga decal-decal 'copotan' yang dijual terpisah. Ada beberapa produk yang bisa dijumpai, antara lain Aero Master, Expert Choice, dan Decal Master. Dengan demikian, mendandani sebuah model pesawat dengan lambang TNI AU bukan lagi suatu hal yang mustahil.

Tak terhenti sampai di sini, hobi merombak model kit bisa dikembangkan lagi menjadi diorama. Pabrikan kit sepertinya juga mengetahui gelagat ini. Hal tersebut dibuktikan dengan keluarnya model pesawat, terutama dari jenis heli yang berskala 1:35. Ukuran ini dibuat agar sesuai dengan skala model figure (pasukan) serta armour (kendaraan militer) yang beredar. Dengan demikian maka modeler tak bakal lagi kesulitan untuk membuat suatu diorama dengan tema mobud (mobilitas udara), misalnya.

1 komentar:

Bening&Ulan mengatakan...

Mas, tanya dong.. kalo mau beli pesawat modelnya dimana ya? Di Plaza Semanggi, ada, tapi koleksinya dah habis. Tinggal satu, tapi rodanya patah. Sebelumnya saya dah beli F18, F15. Tinggal nyari yang F14, tapi dimana lagi ya? Saya nyari yang diecast 1:72. Terima kasih -